Prestasi Bukan Hanya di Kota! 3T Juga Bisa!

Oleh: Jaya Hartono, S.pd


Daerah 3T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal) merupakan daerah yang paling terluar pada wilayah Indonesia, pada dasarnya ada 122 wilayah di Indonesia yang masuk dalam wilayah 3T salah satunya adalah Jorong Ranah Panantian, Nagari Air Bangis, Kecamatan Sungai Beremas, Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat. Untuk menuju Kejorongan Ranah Panantian saya harus mengeluarkan tenaga ekstra, karena berada dipedalaman Pasaman Barat lebih kurang 35 KM dari Pusat Kota Kecamatan Sungai Beremas. Agar sampai ke jorong ini saya mempunyai 2 alternaif jalan, satu melalui laut dan kedua melalui darat. Saya sudah melalui kedua jalur ini, jalur darat saya lalui ketika hari panas dan jalan kering. Ketika hari hujan maka jalan basah dan becek, akan sulit dilalui karena masih banyak jalan setapak yang hanya dapat dilalui sepeda motor saja. Maka ketika hari hujan saya akan menempuh jalur kedua yaitu laut. Saya harus naik kapal nelayan bersama dengan sepeda motor lebih kurang 1, 5 jam perjalanan.

Di Jorong Ranah Panantian inilah sebahagian anak terbaik negeri ini melansungkan kehidupan yang jauh dari keramaian dan kemoderenan. Bagaimana dikatakan tidak tertinggal, disitu tidak ada Listrik, Signal, apalagi Internet. Untuk menghubungi keluarga atau kerabat saja hanya ada satu titik yang dapat digunakan oleh masyarakat  dan diberi nama Pondok Signal. Di Pondok Signal inilah saya dan masyarakat Jorong Ranah Panantian dapat menggunakan HP untuk menghubungi keluarga dan kerabat.

Ranah Panantian hanya ada 3 jenjang sekolah yaitu RA, SD dan SMP. SD merupakan tempat bertugas saya untuk melahirkan generasi – generasi terbaik bangsa ini. Sekolah yang berada dipedalaman yang begitu sejuk karena masih dikelilingi oleh hutan belantara yang menghijau. Kesejukan dan keheningan inilah yang memberikan motivasi tersendiri bagi saya untuk membawa beberapa  putra dan putri terbaik bangsa ini menunjukkan diri kedepan kalayak. Sejak masuk di sekolah tersebut saya sudah membulatkan tekad bahwa akan membawa siswa- siswi saya untuk mengiktui O2SN sampai ketingkat Kabupaten. Saya pun mulai melakukan seleksi secara bertahap untuk beberapa cabang olahraga yang menjadi prioritas dan diperlombakan hingga tingakat Internasional. Adapun cabang yang menajadi prioritas saya adalah Atletik Kids dan Catur.

Setelah melakukan seleksi yang ketat, sayapun mendapatkan 5 orang siswa untuk dibawa bertanding ke tingkat Gugus. Kelima siswa tersebut adalah Olivia, Aura, Dila, Rian dan Rival. Jauh sebelum pertandingan saya sudah melakukan seleksi, agar mendapatkan waktu latihan yang panjang serta dapat mempersiapkan teknik dan mental siswa. Maklumlah, karena mereka belum terbiasa untuk betanding dilevel Kecamatan. Ketika latihan saya selalu memberikan yang terbaik dan motivasi kepada siswa agar dapat meningkatkan mental mereka. Kalimat motivasi yang sering saya ucapkan buat siswa adalah yang dikutip dari penulis buku “Sekolahnya Manusia” yaitu Bapak Gubernur Jakarta Anies Rasyid Baswedan, Ph.D,  yang berbunyi “Lokasi lahir boleh dimana saja, namun lokasi mimpi harus di langit”. Kalimat inilah yang tidak pernah saya tinggalkan setiap mau latihan, agar dapat membakar semangat siswa – siswa terbaik bangsa ini  untuk bermimpi dan bercita – cita setinggi langit walapun mereka terlahir di pedalaman bumi pertiwi. Ketika saya menyampaikan kalimat itu merekapun lansung menjawab “baik pak, kami akan latihan dengan keras untuk menggapai mimpi kami yang tinggi”.

Olivia merupakan siswi yang cerdas di antara teman – temannya, dia sudah 2 kali mewakili Kecamatan untuk berlomba ditingkat Kabupaten di Cabang Olaharaga Catur namun belum pernah meraih kemenangan. Aura, Dila, Rian dan Rival merupakan atlit baru dan belum memiliki jam terbang, namun baru  akan dipromosikan. Mereka masih belum mempunyai pengalaman dan masih awam dengan pertandingan. Ke empat orang siswa ini akan turun dinomor perlombaan Atletik Kids, 2 orang Putra dan 2 orang Putri.

Setelah melakukan latihan mulai bulan September 2017 sampai Februari 2018, saya membawa mereka untuk pergi melakukan pertandingan ke tingkat Gusus. Saya didampingi oleh Kepala Sekolah dan teman – teman majelis guru untuk membimbing siswa – siswa kami pergi ke ibu kota kecamatan untuk melakoni pertandingan antar Gugus yang terdiri dari 4 Sekolah. Alhamdulillah, ke 5 orang siswa kamipun meraih kemenangan dan berhak untuk mewakili Gugus bertanding ke tingat Kecamatan. Kamipun merasa gembira waktu itu, karena jerih payah kami selama lebih kurang 5 bulan melakukan latihan membuahkan hasil yang maksimal. Setelah selesai pertandingan, kamipun kembali mengarungi Samudra Hindia untuk kembali ke Jorong Ranah Panantian. Siswa – siswa sayapun merasa gembira, salah seorang siswa saya berkata “pak, ternyata kita bisa juga mengalahkan orang kota ya pak”, itulah kalimat yang keluar dari mulut siswa yang begitu lugu dan polos, saya pun menjawab “alhamdulillah nak, tapi ini baru awal, masih panjang perjalanan anak – anak bapak. Kalian akan menghadapi lawan – lawan yang lebih kuat lagi, kalian akan menghadapi pemenang – pemenang  Gugus yang lain”, serontak mereka menjawab “kami siap untuk mengalahkan mereka pak”, mendengar kekompakan dan jawaban mereka, tak terasa mata saya pun berlinang merasa bahagia.

Setelah melakukan perjalan selama lebih kurang 2 jam, kamipun sampai kembali di Jorong Ranah Panantian. Orang tua mereka sudah menanti di pelabuhan untuk membawa pulang kerumah masing – masing. Ketika kapal mendarat, bertanyalah salah sorang orang tua siswa dengan berteriak karena kuatnya suara kapal takut kami tidak mendengar. “Bagaimana pak, menang anak kita?”, Kepala Sekolah menajwab, “Tunggu dulu pak, turun kami dulu”, setelah kapal mendarat dengan baik, kamipun turun dari kapal dan barulah beliau menceritakan kepada orang tua siswa, “alhamdulillah mereka berlima menang pak, insyaAllah mereka akan bertanding lagi ketingkat Kecamatan”, orang tua yang menunggu anaknya di pelabuhan pun serentak menjawab, “alhamdulillah”, terimakasih buk, terimakasih pak  yang sudah dengan ikhlas dan tanpa lelah melatih anak – anak kami” jawab salah seorang wali murid. Sayapun menjawab, “bukan hanya saya yang melatih pak, ini kita dapatkan karena pertolongan Allah,kerja sama semua majelis guru dan kepala sekolah yang selalu memberi motivasi kepada kami”, “iya pak, tapi ini belum pernah diraih oleh anak – anak kita selamanya” lanjut orang tua siswa menegaskan. “iya pak, ini baru awal pak, masih panjang perjalanan kita pak, kami juga minta dukungan dari bapak – bapak untuk lebih meningkatkan prestasi anak – anak kita” sambung saya.

Setelah terjadi cengkerama di pelabuhan, kami pun beranjak untuk kembali kerumah masing – masing. Saya tidak lupa mengingatkan kepada orang tua untuk menjaga kondisi serta mengontrol anak – anaknya di rumah, mengingat pertadingan kedepan akan lebih berat.

Keesokan harinya kamipun sekolah lagi seperti biasa, kepala sekolah mengumpulkan semua siswa dan majelis guru untuk menyampaikan hasil pertandingan yang kemarin kami ikuti. Setelah semua siswa berbaris di depan kantor, kepala sekolah mulai untuk menyampaikan hasil yang kami dapatkan, “anak – anak ibuk semuanya, bagaimana kabarnya pagi ini?”, siswa – siswa serentak menjawab “ baik buk”, “tau kenapa anak – anak ibuk dikumpulkan?” lanjut kepala sekolah, “tidak buk” jawab siswa”. “Baiklah, ibuk akan menyampaikan kepada anak – anak hasil pertandingan yang dilakoni oleh teman – teman kalian kemaren” kata kepala sekolah. ”Ohhhh, itu buk” jawab siswa serentak. “Iya..., teman – teman kalian yaitu Olivia, Aura, Dila, Rian dan Rival mendapatkan kemenangan, dan mereka berhak untuk pergi bertanding lagi ketingkat Kecamatan” ucap kepala sekolah. “horeeee, alhamdulilah” jawab siswa sambil berteriak karena gembira mendengar teman – teman meraka mendapat kemenangan yang belum pernah didapatkan selama ini. Kepala sekolah memanggil mereka berlima untuk maju kedepan berdiri dihadapan teman – tememanya sambil menyuruh siswa – siswa yang lain bertepuk tangan. Hiruk – piuk dengan iringan tepuk tanganpun bergemuruh mengiri langkah – langkah pahwan 3T itu menuju kedepan. Setelah selesai penyampaian kepala sekolah, peserta didikpun dibubarkan dan melanjutkan kembali PBM.

Sayapun mulai lagi membuat program latihan untuk siswa – siswa yang akan mengikuti pertandingan ditingkat Kecamatan. Kami melakukan latihan lebih kurang satu bulan untuk persiapan ke tingkat Kecamatan. Selama lebih kurang satu bulan itu saya melatih anak – anak setiap hari tanpa kenal lelah, kami latihan pagi dan sore. Certia – certia motivasipun saya suguhkan buat anak – anak untuk membakar semangat mereka agar terus giat berlatih demi meraih mimpi yang ada di langit.

Pada akhir bulan maret 2018 kami pergi untuk melakoni pertandingan ke tingkat Kecamatan. Tidak jauh berbeda dengan pertandingan tingkat Gusus, saya, kepsek, dan majelis guru pergi untuk mendampingi anak – anak. Pada hari itu hanya 2 orang siswa kami yang mendapatkan kemenangan yaitu Olivia dan Rival, sedangkan Aura, Dila dan Rian mengalami kekalahan. Alhamdulillah, sayapun merasa gembira melihat kemenangan yang di peroleh anak -anak. Tanpa sadar, air mata sudah mengalir dipipiku, saya sadar ketika salah seorang guru memberikan tisu untuk mengapus air  mata yang mengalir. Saya sempat bertanya, “untuk apa tisu buk?” tanya saya, “tu pak, yang dipipi dihapus!” jawab teman tersebut. Ternyata air mata kebahagiaan sudah mengalir dipipi saya. Setelah selesai semua pertandingan, kami kembali ke Jorong Ranah Panantian membawa 2 medali yang akan menjadi tiket untuk pertandingan ke Kabupaten.

Sama halnya seperti pertandingan tingkat gugus, kami disambut oleh orang tua serta keesokan harinya juga disampaikan oleh kepala sekolah kepada peserta didik di sekolah. Orang tua dan ssiwa lebih gembira lagi karena 2 orang anak serta teman – teman mereka bisa untuk lanjut ke tingkat Kabuapten yang telah lama dinanti.

Saya kembali lagi membuat program latihan untuk persiapan mengahdapi lomba ditingkat kabupaten. Saya mendampingi Rival dan Olivia untuk melakukan latihan setiap hari, pagi dan sore. Saya menyuguhkan program yang telah dibuat kepada meraka berdua, mereka pun melaksanakannya dengan baik. Karena latihan Rival lebih berat dari pada Olivia, Rival sempat bertanya kepada saya, “Pak, apa seperti ini yang harus dilakukan untuk menang?” Tanya Rival, lalu saya berkata kepada Rival, “Nak, dimana mimpimu?, “dilangit pak” jawabnya, “kira – kira, jika mimpimu dilangit deangan latihan seperti ini sudah bisakah kamu untuk menggapainya?” tanya saya lagi, Rival termenung sejenak serta menjawab, “ Tidak pak.....” dengan teriak sambil melemparkan peluru turbo yang ada digemgamannya. Alhamdulillah, lemparan tersebut mencapai 42 Meter, sayapun terkejut melihat hasil lemparan Rival dan senangnya tak bisa diungkapkan.

Latihan lebih kurang 1 bulan, datanglah waktu untuk pertandingan ke Kabupaten. Saya, Rival dan Olivia berangkat menuju Air Bangis untuk bergabung dengan kontingen Kecamatan Sungai Beremas. Keberangkatan menuju Kota Simpang Empat yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Pasaman Barat itu pada hari minggu, namun karena terkendala transportasi kami harus berangkat lebih awal yaitu pada hari sabtu. Hari sabtu adalah hari Pasar di Air Bangis dan Kapal ada yang pergi menambang ke Ranah Panantian untuk menjemput masyarakat pergi ke Pasar. Kamipun naik Kapal ke Pasar untuk bergabung dengan kontingen keesokan harinya di Korwilcam Kecamatan Sungai Beremas.

Pada hari Minggu 22 April 2018, kami bergabung dengan Kontingen Kecamatan Sungai Beremas di Kantor Korwicam sekaligus pelepasan oleh bapak Camat Sungai Beremas. Setelah selesai acara pelepasan, saya membimbing Olivia dan Rival naik ke mobil dan lansung berangkat ke Simpang Empat. Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 3 jam, kami sampai di Simpang Empat dan lansung menuju penginapan yang sudah di sediakan oleh pihak Korwilcam. Seturun dari mobil, kami lansung mengambil barang – barang dari mobil dan masuk ke penginapan untuk seterusnya istirahat setelah melakukan perjalan yang sangat melelahkan.

Senin, 23 April 2018 merupakan acara pembukaan O2SN tingkat Kabuapten di halaman Kantor Bupati Pasaman Barat. Setelah sarapan, kamipun berangkat menuju Kantor Bupati Pasaman Barat dengan memakai kostum kontingen yang bernuansa hijau. Sesampai di depan Kantor Bupati, kontingen kami pun diarahkan oleh pantia untuk menuju tempat yang telah disediakan. Disitu berkumpul seluruh kontingen yang terdiri dari 11 Kecamatan di Pasaman Barat. Diakhir acara dipanggilah setiap kontingen untuk berjalan di depan seluruh kontingen sambil meneriakkan yel yel, tanpa sadar air mata berlinang dimata saya karena merasa terharu dan bangga dapat membawa putra dan putri terbaik bangsa dari  pedalaman untuk tampil di depan bapak Bupati yang selama ini belum pernah mereka rasakan. Kamipun kembali ke penginapan untuk istirahat.

Selasa, 24 April 2018 adalah hari dimana putra dan putri terbaik Sungai Beremas memperlihatkan kepada dunia, bahwa yang dipedalaman pun bisa berprestasi. Hari itu  dimulailah perlombaan semua cabang yang dilombakan pada O2SN. Saya membawa dan mendampingi Rival untuk pergi ke lokasi pertandingan, sedangkan Olivia didampingi oleh guru lain karena beda tempat pertandingan. Petandingan pun dimulai, di cabang Atletik Kids ada 4 nomor yang dipertandingkan yaitu Nomor Lari 60 M, Formula 1, Lompat Jauh dan Lompat Turbo. Perlombaan nomor pertama dimulai yaitu Lari 60 M, Rival mendapatkan peringkat 5, lanjut kepada nomor kedua yaitu lompat jauh, Rival malah lebih jauh yaitu nomor 7. Pada hari itu kami tidak mendapatkan apa yang kami inginkan dan kembali kepenginapan dengan hasil yang mengecewakan. Namun walapun saya merasa kecewa, saya tetap mengucapkan terimaksih kepada Rival dan terus memberikan motivasi agar di sisa pertandingan Rival lebih percaya diri lagi dan tetap untuk semangat membuktikan bahwa orang pedalaman juga bisa.

Keesokan harinya, 25 April 2018 pertandingan untuk 2 nomor yang belum pun dimulai yaitu Formula 1 dan Lempar Turbo. Perlombaan pun dimulai, Rival menjadi pelempar yang ke 10. Setelah melakukan lemparan, Rival dapat mengalahkan 9 pelempar sebelumnya dengan kejauahan 42 M. Saya pun sangat senang dan berteriak, “ mantap nak, ayo bangkit, buktikan jika 3T juga bisa”. Saya sudah mengira bahawa dalam nomor ini Rival yang akan menjadi  nomor 1, namun masih tersisa 1 pelempar lagi. Dadapun berdebar menunggu hasil lemparan dari kecamatan yang terakhir itu, dan ternyata lemparan terakhir ini melebihi lemparan Rival 60 cm yaitu 42, 60 M. Namun saya tetap senang dan bangga kepada anak didik saya sudah meraih nomor 2. Setelah itu lanjut nomor ke 4 yaitu Formula 1, Rival pun bersiap dinomor yang sama yaitu nomor 10. Rival mencatatkan waktu yang bagus yaitu peringkat 2 dari 10 peserta dan menyisakan 1 peserta lagi, namun perserta terakhir itu tidak dapat melebihi hasilnya Rival. Dalam perlombaan nomor yang terakhir ini Rival juga mendapatkan nomor 2.

Semua nomor sudah selesai dilaksanakan, saatnya waktu pengumunan juara dari semua nomor. Panitia pun mulai mengumumkan peringkat – peringkat dari setiap nomor, sekaligus memberikan medali. Dan yang terakhir adalah pengumuman juara dari seluruh nomor, dan ternyata Rival mendapatkan Juara 2 dari keseluruan nomor. Jadi, diperlombaan Atletik Kids Rival menjadi Juara ke 2 secara keseluruhaan. Saya pun memeluk Rival dengan air mata yang terurai sambil mengatakan, “terimakasih nak, kamu sudah membuktikan bawah kita juga bisa”. Kami kembali ke pengenginapan dan menunggu hasil yang di dapatkan Olivia dalam lomba Catur. Alhamdilillah, Olivia pun mendapatkan peringkat ke 2 dalam perlombaan Catur. Saya merasa sangat senang dengan prestasi yang ditorehkan oleh mereka berdua. Ucapan selamatpun mulai berdatangan dari rekan – rekan pelatih, Kepala Sekolah, dan Korwilcam.

Sore harinya, kontingen Kecamatan Sungai Beremas kembali ke Air Bangis kerena sudah selesai mengikuti O2SN. Sampai di Air Bangis sudah agak larut malam, kami menginap di rumah Kepala Sekolah. Keesokan harinya baru kami melanjutkan perjalanan  ke Ranah Panantian. Kami menaiki kapal langganan sekolah. Di atas kapal hanya kami bertiga, berhubung kepala sekolah masih ada urusan yang mau diselesaikan. Sesampainya  dipelabuhan Ranah Panantian, kami sudah ditunggu oleh orang tua Rival dan Olivia untuk menjemput, karena jarak antara pelabuhan dan kampung lebih kurang 4 KM lagi serta  jalan berlubang dan berlumpur.

Seturun dari kapal, orang tua Olivia lansung bertanya, “bagaimana hasilnya pak? Tanya ayah Olivia. “ alhamdulillah pak, Olivia dan Rival sama – sama mendapatkan juara 2”, jawab saya. Alhamdulillah........, terimakasih pak, ini semua hasil dari kerja keras bapak” lanjut ayah Olivia sambil memeluk. “ini bukan karna saya pak, tapi karena pertolongan Allah dan kerjasama semua majelis guru, kepala sekolah dan masyarakat yang mendukung latihan mereka” pungkas saya sambil memeluk erat ayah Olivia. Ternyata tanpa disadari kami berdua sudah berlinang air mata. Sesaat setelah itu beliaupun melepaskan pelukannya, saya menyerahkan Olivia dan Rival kepada orang mereka. Kami melanjutkan perjalan menuju rumah masing – masing.

Hasil yang kita dapatkan bukanlah datang secara tiba – tiba, akan tetapi harus menjalani proses dan latihan. Seperti halnya Thomas Alva Edison yang mengalami kegagalan 999 kali untuk menerengi dunia. Sama juga dengan diri kita, bukan terlahir lansung besar dan berprestasi. Namun kita mengalami proses panjang, mulai dari dalam kandungan, lahir, bayi, kanak – kanak, remaja, dewasa, tua dan kembali kepada-Nya. Ketika kita menginginkan hasil yang baik, maka kita harus menjalani banyak proses dan latihan yang maksimal. Teruslah latihan dan latihan, hanya dengan latihan lah engkau akan mendapatkan kondisi akhir terbaik mu.

Komentar