Merdeka Mengajar dan Merdeka Belajar

Oleh Jaya Hartono, S.Pd

PJJ adalah singkatan dari Pembelajaran Jarak Jauh, yang merupakan alternatif pembelajaran di saat pandemi covid -19. Covid 19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona yang baru-baru ini ditemukan.Sebagian besar orang yang tertular Covid-19 akan mengalami gejala ringan hingga sedang, dan akan pulih tanpa penanganan khusus¹. Akibat wabah ini sebagaian besar negara di dunia pun melakukan lockdown dan Social distancing.

Lockdown artinya situasi yang melarang warga untuk masuk ke suatu tempat karena kondisi darurat. Lockdown juga bisa berarti negara yang menutup perbatasannya, agar tidak ada orang yang masuk atau keluar dari negaranya.Social distancing adalah mengurangi jumlah aktivitas di luar rumah dan interaksi dengan orang lain, mengurangi kontak tatap muka langsung. Langkah ini termasuk menghindari pergi ke tempat-tempat yang ramai dikunjungi, seperti supermarket, bioskop, dan stadion. Dalam situasi ini, pemerintah 'memaksa' menutup sejumlah tempat dan kawasan umum guna menekan penyebaran virus corona. Aktivitas warga juga akan dibatasi dan diharuskan untuk tetap berada di dalam rumah².

Oleh sebab itulah sekolah diseruluh Indonesia dianjurkan oleh pemerintah untuk ditutup guna pencegahan covid-19. Ditutupnya sekolah membuat para guru dan orang tua kebingungan bagaimana keberlanjutan pendidikan anak – anaknya. Orang tua banyak yang bertanya kepada saya, “pak, sampai kapan anak – anak belajar di rumah?, kalo di rumah tidak mau belajar pak, maunya main aja” ungkap salah seorang wali murid kepada saya. “saya juga belum tau buk, yang jelas setiap 14 hari akan ada pengumuman dari Dinas Pendidikan, apakah sekolah dibuka atau berlanjut belajar di rumahnya”, jawab saya.

Orang tua tersebut mengangguk mendengarkan jawaban saya dan memperlihatkan aura ketidak puasan. Namun apalah hendak dikata keadaan yang membuat seperti itu. Kita sebagai seorang guru merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini.

Dalam keadaan Sosial Berskala Besar ini pemerintah menganjurkan untuk melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). PJJ ini merupakan atlernatif terbaik walapun menghadapi banyak kendala. Belajar tatap muka saja masih banyak siswa yang tidak paham, apalagi mereka kerjakan  di rumah. Jika orang tua mereka di rumah paham dengan materi/ tugas yang kita berikan, maka orang tua bisa menajdi alternatif, namun yang jadi masalah adalah ketika orang tua tidak paham dengan materi/ tugas yang kita berikan. “pak, kami sekolahkan anak karena kami gak bisa jadi guru dirumah lho pak”, ungkap salah seorang wali murid, “kita tidak tau mau ngomong apa buk, sebenarnya kami juga tidak mengiginkan ini, ibuk yang sabar dan mohon kepada Allah agar wabah ini cepat berlalu, sehingga anak- anak ibuk bisa belajar di sekolah seperti biasa lagi”, jawab saya.

Yang saya rasakan dalam PJJ itu hanyalah kesulitan, ketika kita kirim tugas melalui WA tidak semua anak dan orang tua yang memiliki HP Anroid. Lalu bagaimana dengan siswa yang tidak memiliki HP Android? Kami memberikan solusi agar orang tuanya yang datang ke sekolah untuk mengambil tugas untuk kelas 1 – 3, sedangkan kelas 4 – 6 siswa ambil dan kumpulkan sendiri tugasnya dengan waktu yang berbeda – beda untuk menghindari kerumunan. Tugas untuk kelas 1 – 3 kita berikan kepada orang tua, melihat tugas tersebut , “ternyata jadi guru itu tidak semudah yang saya bayangkan pak”, kata salah seorang wali murid, “kami yang harus bekerja dirumah, ke kebun, pulang sore dan kadang dah pulang malam, sampai di rumah harus jadi guru, mau masak, ngurus anak lagi. Memang susah pak, kadang saya marah sama anak dan kadang tidak sempat buat ajarin mereka”, cerita orang tua siswa. “Ya buk, tugas guru itu memang berat, tidak hanya mengajar buk namun bagaimana kita menjadikan anak – anak ibu baik akhlaknya, cerdas pemikiranya dan mendaptkan nilai yang maksimal ketika ujian, itu lah yang kami berikan kepada anak – anak ibu” jawab saya.

Keluhan orang tua ketika melaksanakan Pembelaajran Jarak jauh menjadikan sebuah wadah untuk menyampaikan kepada orang tua, bahwa sesungguhnya tugas seorang guru itu sangatlah besar dan mulia. Karena sering kita dengar guru yang dikasari dan dilecehkan oleh wali murid hanya karena hal sepele. Namun di tengah wabah ini menjadi pemebelajaran besar untuk para orang tua agar dapat merasakan bagaimana sulitnya menjadi seorang guru. Di rumah paling banyak ada 5 anak yang akan diberikan pelajaran itupun tidak satu tingkat, akan tetapi di sekolah paling sedikit 12 orang anak dalam satu tingkat.

Semua ini saya rasakan sebelum mengikuti Diklat dan Bimtek yang di adakan oleh Kemendikbud. Namun, lain ceritanya setelah saya selesai mengikuti Diklat dan Bimtek tersebut. Pada awalnya saya tidak mengetahui ada pelatihan online dari Kemendikbud, namun ada salah sorang teman mengirim informasinya di salah satu grup WA. Dari sinilah saya ketahui bahwsanya ada pelatihan Guru Belajar Seri Masa Pandemi Covid-19.

Setelah mendapatkan informasi tersebut, saya lansung buka SIM PKB. Dari situlah saya mulai mengikuti Program Guru Belajar seri Masa Pandemi Covid-19. Sebenarnya program ini mulai dari awal Oktober, namun saya mengetahui sudah di pertengahan Oktober. Karena keterlambatan mendapatkan informasi, saya pun bisa ikut di gelombang ke 3 yaitu dimulai tanggal 21 dan berakhir tanggal 30. Setelah Bimtek selesai, maka dilanjutkan dengan Diklat yang dumulai tanggal 31 sampai dengan tanggal 19 November. Dalam kurun waktu lebih kurang 4 hari, saya pun dapat menyelesaikan Diklat dengan baik.

Di dalam Program Guru Belajar seri Masa Pandemi Covid-19 inilah saya mendapatkan ilmu serta inspirasi yang banyak. Disinilah saya baru sadar, ternyata PJJ itu bukan hanya dengan Daring saja. Namun banyak yang dapat kita lakukan untuk membuat peserta didik tetap belajar walaupun tidak pembelajaran tatap muka.

Tujuan pendidikan di masa pandemi ini adalah bukan untuk menuntaskan capaian yang dituntut oleh Kurikulum, namun tidak lain adalah bagaimana agar peserta didik mendapatkan kecakap hidup. Sebelumnya saya tetap memberikan tugas kepada peserta didik sesuai dengan tuntunan kurikulum. Ternyata itu memberikan beban yang berat kepada peserta didik dan orang tua. Banyak peserta didik dan orang tua  mengeluh dengan tugas  yang sduah menumpuk. Itupun kadang dikerjakan kadang juga tidak, karena sakin banyaknya tugas yang harus mereka selesaikan.

Setelah ikut Program Guru Belajar seri Masa Pandemi Covid-19, saya merubah metode pembelajaran saya 180⁰. Saya tidak lagi memberikan tugas yang dituntut oleh kurikulum sebelum masa pandemi. Tugas  - tugas saya berikan berpariasi mulai dari mencuci piring, belanja ke warung, menyapu halaman, membantu orang tua memasak, memandikan adik, mencuci pakian dan bahkan sampai dengan pergi membantu orang tua ke ladang. Tugas – tugas yang saya berikan itu merupakan modal dasar untuk mendapatkan kecakapan hidup.

Tugas itu bukan biasa buat saya, namun merupakan pembelajaran yang sebenarnya dimana peserta didik lansung bertemu dengan objek pembelajaran. Hal ini yang masih banyak tidak kita ketehui sebelumnya, ternyata di rumah itu menumpuk sumber belajar bagi peserta didik. Tugas – tugas yang saya berikan bukan berarti dilepaskan begitu saja, diberi tugas lalu tidak di tagih. Dalam penugasan ini saya menyuruh peserta didik untuk menuliskan langkah –langkah tugas yang mereka kerjakan. Contoh, tugas mencuci piring “ peserta didik saya suruh untuk mencatatkan di buku mereka tentang langkah – langkah mencuci piring dan berapa banyak yang mereka cuci. Catatan inilah nantinya yang akan mereka kumpulkan dan menjadi bahan penilaian buat saya untuk menentukan nilai perserta didik di dalam raport.

Tidak hanya merasa senang dengan tugas yang diberikan dalam PJJ. Peserta didik pun merasa hilang bebannya terahdap tugas – tugas yang begitu banyak. Anak senang, orang tua bangga, karena merasa terbantu pekerjaannya di rumah. Orang tua tidak lagi disibukkan dengan tugas anak  di rumah. Para orang tua bahkan terbantu pekerjaannya dengan tugas – tugas yang saya berikan. Yang biasanya pulang dari ladang, anak – anak sudah menyungguhkan tugas tambahan untuk orang tuanya. Terkadang anak  dan orang tua pun tidak paham dengan tugas yang diberikan oleh guru.

Ternyata, pertukaran motode yang saya lakukan dalam PJJ sangat membantu orang tua. Semua  ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Saya harus berpikir matang dan bekerja keras untuk menerapkan motode tersebut. Saya harus melakukan asesmen diagnosis awal terlebih dahulu. Melakukan asesmen tidaklah mudah bagi saya, mengingat tempat tinggal peserta yang jauh dari sekolah. Kebanyakkan dari peserta didik sberada di Barak – Barak (perumahan – perumahan) PT perkebunan sawit. Saya harus menunggu orang tua yang datang mengantarkan tugas anaknya ke sekolah. Dari mereka yang datanglah saya dapat menggali keadaan perserta didik lain. Asesmen pun tidak bisa saya lakukan kepada semua persera didik secara lansung. Namun informasi dari orang tua peserta didik yang lain sudah sangat memabntu untuk melakukan asemen.

Setelah melakukan asesmen diagnosis awal, barulah saya merancang metode pembelajaran yang sesuai dengan keadaan peserta didik dimasa pandemi covid-19. Rancangan metode PJJ pun mulai saya pikirkan dengan mencari referensi yang relevan dengan keadaan pandemi. PJJ yang sebelumnya ada di benak saya adalah belajar jarak jauh menggunakan media internet saja. Ternyata PJJ itu tidak hanya dengan internent saja, namun bisa dengan tugas melalui modul, guru kunjung,dan luring.

Sesuai dengan tujuan pendidikan dimasa pandemi yaitu bagaimana peserta didik mendapatkan kecakapan hidup. Dari tujuan inilah saya dapat merancang metode yang tepat untuk diberikan kepada pserta didik. Dari hasil diagnosis saya, ternyata  hanya beberapa peserta didik yang orang tuanya memilki HP anroid. Jika saya lakukan daring, maka hanya beberapa peserta didiklah yang dapat mengikuti. Oleh sebab itu, saya menerapkan motode luring, dengan menyuruh siswa belajar dari radio, TV, dan seumber belajar lain yang dimiliki oleh peserta didik.

Selain belajar dengan media tersebut, saya berikan tugas kepada peserta didik dengan aktivitas kehidupan sehari – hari di rumah dan di masyarakat. Saya memberikan tugas – tugas agar siswa dapat melakukan aktivitas dasar – dasar kehidupan di rumah dan  di masyarakat. Adapun beberapa contoh tugas yang saya berikan kepada peserta didik adalah mencuci piring, mencuci pakian, mencuci sepatu, menyapu halaman, menyapu rumah, merapikan tempat tidur, belanja ke warung, serta membantu orang tua ke ladang. Semua tugas ini besar hubungannya dengan aktivitas olahraga. Tugas – tugas ini membutuhkan aktivitas gerak dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mendapatkan kecakapan hidup.

Sesuai dengan tujuan PJOK di sekolah yaitu untuk meningkatkan kesegaran jasmani peserta didik. Saya menyesuaikan materi dengan metode PJJ dimasa pandemi. Dimana peserta didik harus memiliki daya tahan tubuh yang kuat agar terhindar dari serangan covid-19. Tugas – tugas yang saya berikan selalu membutuhkan aktivitas gerak. Dengan banyaknya siswa melakukan aktivitas gerak di rumah, diharapkan dapat membantu peserta didik untuk meningkatkan kesegaran tubuh serta melindungi mereka dari serangan covid-19.

Dari metode yang telah saya terapkan ini, sangat mendapat aspresiasi dari orang tua peserta didik. Para orang tua merasa sangat terbantu dengan tugas yang saya berikan. Bagaimana tidak terbantu?, sepulang dari bekerja, para orang tua tidak mendapatkan tugas tambahan lagi yaitu mengerjakan tugas sekolah anak. Setelah menerapkan motode dengan tugas sesuai dengan aktivitas keseharian di  rumah, orang tua tidak lagi ada tugas tambahan sepulang bekerja. Bahkan dengan metode ini orang tua malah terbantu, sepulang bekerja orang tua tidak lagi mendapatkan piring –piring kotor di dapur. Yang biasanya itu adalah tugas orang tua, sekarang mereka sudah tidak kerjakan lagi. Piring, pakian kotor, halaman, lantai, kamar sudah rapi di dapatkan sepulang bekerja.

Tentu dengan mendapatkan semua ini, sudah pastilah orang tua merasa senang. Mendapatkan rumah bersih menjadi pertanyan bagi para orang tua, yang biasanya mereka harus bekerja keras lagi di rumah sepulang bekerja sekarang itu tidak mereka lakukan lagi. Meraka merasa bangga dengan anak meraka dan bahkan banyak orang tua yang memberikan hadiah kepada anaknya dengan menambah uang jajan. Tidak hanya sampai disitu, keharmonisan di dalam rumah tangga pun semakin erat antara anak dengan orang tua. Orang tua mana yang tidak bangga dengan anaknya dapat membantu pekerjaan mereka di rumah.

Pada suatu hari, datanglah salah seorang tua peserta didik menemui saya. Saya pun terkejut, karena wali murid tersebut sebelumnya tidak pernah datang ke sekolah. Dada saya pun berdebar – debar keras karena merasa was – was, serta bertanya dalam hati apa kesalahan yang telah saya lakukan. Begini ceritanya, “Pak….., terimaksih banyak dengan tugas – tugas yang berikan kepada anak saya, saya bersyukur sekali dengan tugas – tugas itu pak”, kata wali murid tersebut. “Lhoooooo…, kok bersyukur dengan tugas – tugas itu buk, biasanya ngeluh?, Tanya saya kembali. “Iya bapakkkkk, saya bersyukur bangat pak. Bagaimana tidak bersyukur pak, semua pekerjaan di rumah sudah dikerjakan oleh ke tiga anak saya. Pulang dari ladang saya menemukan semua sudut rumah sudah bersih, dapur rapi tanpa menyisakan piring kotor, halaman bersih, dan yang paling membuat saya senang pak, anak saya tanpa disuruh malah meminta untuk pergi belanja kebutuhan harian kami ke warung”, lanjut wali murid.

“Pak…., pada hal sebelumnya semua itu saya kerjakan setelah pulang dari ladang. Rasa capek bekerja di ladang akan ditambah lagi dengan pekerjaan rumah. Kadang pulang dari ladang marah – marah kepada anak dengan melihat kondisi rumah yang berantakan, bahkan sampai memukul mereka. Keharmonisan saranya kurang pak, setelah selesai menyelesaikan pekerjaan rumah bisanya saya lansung tidur karena kecapekan”, ungkap wali murid. “Namun sekarang saya tidak lagi mengerjakan semua itu, saya pun memilki waktu berkumpul dengan anak – anak sambil bercanda ria layaknya keluarga yang harmonis” sambungnya.

Sayapun menjawab, “Alhamdulillah….buk, saya juga merasa senang dan bangga terhadap anak ibuk,  karena sudah mengerjakan tugas sesuai dengan perintah. Namun saya berharap juga kerja sama kita untuk dapat ditingkatkan lagi ya buk, dengan adanya kerja sama yang baik antara guru dan orang tua didarapkan dapat memudahkan berlansungnya PJJ ini”. “ dan kita sama – sama berdo’a agar pandemi ini cepat berlalu, sehingga kita dapat belajar seperti biasa, aaminn.”

Itulah salah satu percakapan saya dengan orang tua peserta didik setelah menerapakan metode pembelajran jarak jauh sesuai dengan tujuan pendididkan di masa pandemi. Ternyata tidak hanya membantu tugas dan peran orang tua di rumah, namun tugas – tugas yang saya berikan dapat meperbaiki hubungan antar anggota keluarga. Keharmonisan sebuah keluarga juga dapat kita lakukan melalui peroses pembelajaran. Ini semua tidak terlepas dari kepiawaian kita dalam memilih metode pembelajaran untuk membuat peserta didik merdeka dalam belajar.

Saya sangat berharap kepada semua guru di bumi pertiwi untuk menerapkan metode pembelajaran yang membuat anak merdeka. Karena Negara kita sudah merdeka lebih kurang 75 tahun yang lalu. Jangan ada lagi hendaknya penjajahan yang di alami oleh peserta didik. Jangan kita jajah peserta didik kita dengan kurikulum yang tidak sesuai dengan karaterisitik mereka. Lain lubuk lain ilalang, lain masa lain metode dan tujuan. Kurikulum sebelum dan sedang masa pandemi tidak lah mungkin untuk kita samakan, begitu juga dengan tuntutan dan tujuan yang kita harapkan dalam pembelajaran.

Pengalaman ini tidak lah mudah untuk kita dapatkan, namun butuh waktu serta proses yang panjang. Banyak belajar menjadi modal utama agar kita mampu merubah semua ini. Menjadi guru pembelajar merupakan salah satu jalan agar kita mampu untuk membuat peserta didik merdeka dalam belajar. Guru merdeka mengajar, peserta didik merdeka belajar akan dapat menciptakan generasi penerus yang berkompeten serta dapat menjadikan bumi pertiwi melahirkan SDM yang handal.

Ayooo para bapak dan ibu guru, kita bangkit, kita rubah, kita maju, kita belajar, kita mengajar demi satu tujuan Indonesia merdeka dalam semua aspek kehidupan. Mari sama – sama kita terus perbaiki diri kita dengan terus belajar dan belajar. Belajar tiada henti menjadi motto kita bersama untuk sama – sama memajukan tanah air tercinta. Saya bangga dengan mu wahai bapak/ ibu guru, pekerjaan mu begitu mulia, namun muliakanlah dirumu dengan terus belajar hingga akhir hayat.

 

Referensi

1.      https://ww.Wikipedia.com

2.      https://www.suara.com/news/2020/03/18

Komentar