3T Menginspirasi


Oleh: Jaya Hartono, S.Pd

Ranah Panantian adalah merupakan salah satu daerah penempatan Guru Garis Depan angkatan kedua tahun 2017. Daerah ini merupakan salah satu dari 93 daerah terpencil penempatan Guru Garis Depan. Daerah yang berada dipedalaman Kabupaten Pasaman Barat serta hutan belantara ini, kira – kira lebih kurang 35 KM dari Ibu Kota Kecamatan Sungai Beramas. Untuk sampai ke Desa Ranah Panantian kita harus berhadapan dengan jalan mendaki, menurun dan berlumpur. Namun ketika hari hujan lebat, maka kita ada jalan alternatif melalui laut. Kita bisa naik kapal nelayan untuk mengarungi Samudra Hindia selama 1, 5 jam perjalanan.

Suka dan duka saya rasakan diperjalanan untuk menuju Desa Ranah Panantian.  Jatuh, masuk lumpur, digigit Kala Jengking bahkan sampai dihadang oleh Buaya sudah saya rasakan di dalam perjalanan menuju kampung yang merubah pola pikir saya terhadap dunia pendidikan. Saya sebenarnya orang asli Pasaman Barat, karena mulai dari nenek moyang saya sudah dilahirkan di Pasaman Barat. Namun pertama kali melihat pengumuman bahwa saya lulus dan ditempatkan di SDN 09 Sungai Beremas tepatnya di Desa Ranah Panantian, sama sekali saya tidak mengetahui dimana desa tersebut. Mulailah saya bertanya – tanya kepada karib kerabat dan teman – teman, anehnya merekapun tidak mengetahui dimana Desa Ranah Panantian. Akhirnya saya mencari nomor HP Kepala Sekolah SDN 09 Sungai Beremas itu. Setelah dapat, beliaupun  lansung saya hubungi. Biliau sangat senang mendengar kami akan bertugas di Sekolah yang beliau pimpin.

Tepat pada tanggal 25 Agustus tahun 2017, saya berangkatlah bersama dengan ke 5 orang teman yang penempatannya di Desa Ranah Panantian. Kami berlima janjian berkumpul dipelabuhan Muara Air Bangis. Karena kami merupakan orang baru dan tidak tau tentang seluk beluk bagaimana untuk memesan kapal, kamipun  minta tolong kepada Kepala Sekolah penempatan saya. Kepala Sekolah saya merupakan seorang perempuan yang tangguh dan cerdas. Beliau mendapatkan peringkat 2 tingkat Nasional Kepala Sekolah berprestasi untuk Daerah Terpencil tahun 2017. Berkat pertolngan beliau, kamipun naik kapal dan berangkat menuju Desa Ranah Panantian. Naik kapal nelayan ini merupakan perdana untuk kami semuanya, namun walaupun yang pertama tidak membuat saya dan teman – teman merasa takut untuk mengarungi Samudra Hindia. Lebih kurang 1,5 jam kami di atas kapal, dan  kapalpun mendarat di Pelabuhan Teluk Tapang.

Di pelabuhan kami sudah ditunggu oleh guru – guru yang bertugas di SD dan SMP. Guru – guru inipun membawa tukang ojek untuk membawa barang bawaan kami. Karena mobil tidak ada, makanya tukang ojeklah yang menjemput kami ke pelabuhan. Setelah turun dari kapal kamipun disambut dengan baik oleh rekan – rekan kerja yang akan menuntun kami di Desa Ranah Panantian. Merekapun berkata kepada kami “selamat datang di kampung kami”, lalu kamipun menjawab “iya, selamat datang”. Tepat di pelabuhan ada warung, dan ternyata yang punya warung itu adalah Datuak (Kepala Suku)  di kampung tersebut. Kepala sekolah memperkenalkan kami dengan Datuak tersebut, kamipun berkenalan satu persatu dengan pak Datuak. Pak Datuak mengatakan “selamat datang dikampuang kami bapak dan ibuk guru, kami sangat senang dengan kedatangan bapak ibuk, karena di kampung kami ini sangat banyak kekurangan guru”. Lalu salah seorang rekan saya pun menjawab “terimakasih pak, kamipun senang bisa diterima dengan baik di kampung ini, insyaAllah kami akan bekerjasama dengan masyarakat untuk meningkatkan pendidikan disini’. Setelah kami bercengkerama dengan pak datuak dan keluarganya, kamipun melanjutkan perjalanan menuju kampung yang lebih kurang berjarak 7 Km lagi dari pelabuhan.

Setelah menerobos hutan Ranah Panantian dengan jalan berliku, mendaki dan menurun,  sampailah kami dikampung/ Desa Ranah Panantian. Di kampung inilah kami bertugas, 4 orang di SMP dan 2 orang di SD. Saya dan salah seorang teman bertugas di SD. Keesokan harinya, kamipun mulai masuk ke Sekolah, kami disambut dengan baik oleh Kepala Sekolah dan para majelis Guru serta Karyawan sekolah. Selanjutnya kami diperkenalkan dengan siswa serta masyarakat yang berada disekitar Sekolah.

Selama 2 bulan bertugas disitu, saya harus berpisah dengan anak istri. Inilah hal yang paling menyedihkan dalam perjalanan tugas saya, harus berpisah dengan orang yang saya cintai. Pada waktu itu anak saya masih berumur 4 bulan. Baru dapat momongan, harus berpisah pula. Namun ini coba saya lewati walaupun dengan berat hati. Namun karena tidak kuat untuk berpisah dengan mereka, setelah dua bulan saya jemput mereka dan saya bawa ke tempat saya bertugas. Satu hal lagi yang membuat saya tidak sanggup untuk berjauhan dengan anak istri saya adalah karena tidak ada signal di Desa Ranah Panantian. Setelah sampai di kampung ini, kita merasa kembali ke zaman dulu belum ada signal. Disitu tidak ada listrik dan signal, benar – kita merasa kembali ke zaman jadul ketika belum ada listrik dan signal. Ternyata masih ada daerah di Negara kita yang kaya raya ini belum masuk listrik dan signal.

Setelah kami bersama di tempat tugas, kebahagiaanpun mulai menghampiri jiwa saya. Yang biasanya ketika hari sore sudah mulai bermenung karena teringat bidadari kecil yang baru berusia 4 bulan dan terkadang sampai meneteskan air mata. Ya, mau bagaimana lagi, signal gak ada. Mau ditelfon? Gimana caranya? Hanya dzikir kepada Allah lah yang dapat menenagkan hati yang gundah gulana karena rindu dengan orang yang dicinta.

Setelah kami menetap di kampung itu, sayapun diangkat oleh masyarakat menjadi mu’azin dan imam pada mesjid di Desa Ranah Panantian. Selain mendidik anak – anak di Sekolah, saya mendapat tugas tambahan menjadi pengurus Mesjid. Adzanpun saya kumandangkan 5 waktu sholat dimesjid tersebut. Kampungpun terasa hidup kembali dengan kehadiran kami Guru Garis Depan. Yang biasanya suara adzan hanya Magrib dan Isya, alhamdulillah setalah kehadiran kami, suara adzan berkumandang disetiap waktu shalat. tidak hanya di Mesjid, kamipun menggerakkan masyarakat untuk bergotong royong membersihakan jalan kampung, sehingga kampung terlihat indah dan hidup kembali.

Setelah 1,5 tahun mengabdi di Ranah Panantian, kamipun diberikan lagi oleh Allah rezeki terindah. Tepat pada tanggal 12 – 09 – 2019 kami dikaruniakan oleh Allah seroang bidadari lagi. Sujud syukurpun mengiringi kelahiran bayi kami tercinta dan sayapun memberi nama Arafah Naeem Sayyidah dengan nama panggian Naeem.

Namun apa mau dikata, takdir sudah mendahului saya. Sayapun harus berpindah tugas ke kecamatan lain. Perpisahanpun terjadi dengan masyarakat Sekolah dan masyarakat Ranah Panantian. Kebersamaan yang sudah dibina lebih kurang 2,5 tahun terasa berat untuk ditinggalkan, karena masih banyak visi  dan misi yang belum terlaksanakan untuk membangun kampung yang dapat memeberikan arti kehidupan kepada saya. Disaat perpisahanpun tiba, warga banyak yang datang kerumah untuk bertemu dengan kami. Terngiang ditelinga saya ucapan warga ketika kami akan pergi meninggalkan kampung, salah seorang warga berkata “pak, tidak akan ada lagi yang adzan subuh nanti pak”, lalu saya jawab “jangan katakan seperti itu buk, kan disini banyak orang yang mau ke Mesjid, insyaAllah ada kok yang akan menggantikan saya”. Warga lain berkata “pak, kenapa bapak tinggalkan kami, siapa yang akan mengajak anak – anak kami shalat dhuha lagi pak?”, sayapun menghibur mereka dengan kalimat “buk, kan disini bukan hanya saya guru, guru yang lain juga bisa membimbing anak – anak ibuk”.

Hari itupun menjadi terakhir buat saya untuk menginjakkan kaki dikampung yang memberikan banyak pelajaran hidup. Kamipun meminta do’a agar senantiasa kami diberikan perlindungan oleh Allah dimanapun kami berada. Tanpa terasa air matapun sudah membasahi pipi saya. Melihat saya menangis, warga yang hadirpun banyak yang menangis mengiri keberangkatan kami. Kisah ini merupakan kenangan saya ditempat pengabdian Guru Garis Depan. Semoga masyarakat Ranah Panantian mendapat penganti saya yang lebih baik visi dan misinya untuk membangun desa Ranah Pantian. 

Komentar