3T Menginspirasi
Oleh: Jaya Hartono,
S.Pd
Suka
dan duka saya rasakan diperjalanan untuk menuju Desa Ranah Panantian. Jatuh, masuk lumpur, digigit Kala Jengking
bahkan sampai dihadang oleh Buaya sudah saya rasakan di dalam perjalanan menuju
kampung yang merubah pola pikir saya terhadap dunia pendidikan. Saya sebenarnya
orang asli Pasaman Barat, karena mulai dari nenek moyang saya sudah dilahirkan
di Pasaman Barat. Namun pertama kali melihat pengumuman bahwa saya lulus dan
ditempatkan di SDN 09 Sungai Beremas tepatnya di Desa Ranah Panantian, sama
sekali saya tidak mengetahui dimana desa tersebut. Mulailah saya bertanya –
tanya kepada karib kerabat dan teman – teman, anehnya merekapun tidak
mengetahui dimana Desa Ranah Panantian. Akhirnya saya mencari nomor HP Kepala
Sekolah SDN 09 Sungai Beremas itu. Setelah dapat, beliaupun lansung saya hubungi. Biliau sangat senang mendengar
kami akan bertugas di Sekolah yang beliau pimpin.
Tepat
pada tanggal 25 Agustus tahun 2017, saya berangkatlah bersama dengan ke 5 orang
teman yang penempatannya di Desa Ranah Panantian. Kami berlima janjian
berkumpul dipelabuhan Muara Air Bangis. Karena kami merupakan orang baru dan
tidak tau tentang seluk beluk bagaimana untuk memesan kapal, kamipun minta tolong kepada Kepala Sekolah penempatan
saya. Kepala Sekolah saya merupakan seorang perempuan yang tangguh dan cerdas.
Beliau mendapatkan peringkat 2 tingkat Nasional Kepala Sekolah berprestasi
untuk Daerah Terpencil tahun 2017. Berkat pertolngan beliau, kamipun naik kapal
dan berangkat menuju Desa Ranah Panantian. Naik kapal nelayan ini merupakan
perdana untuk kami semuanya, namun walaupun yang pertama tidak membuat saya dan
teman – teman merasa takut untuk mengarungi Samudra Hindia. Lebih kurang 1,5
jam kami di atas kapal, dan kapalpun
mendarat di Pelabuhan Teluk Tapang.
Di
pelabuhan kami sudah ditunggu oleh guru – guru yang bertugas di SD dan SMP.
Guru – guru inipun membawa tukang ojek untuk membawa barang bawaan kami. Karena
mobil tidak ada, makanya tukang ojeklah yang menjemput kami ke pelabuhan.
Setelah turun dari kapal kamipun disambut dengan baik oleh rekan – rekan kerja
yang akan menuntun kami di Desa Ranah Panantian. Merekapun berkata kepada kami
“selamat datang di kampung kami”, lalu kamipun menjawab “iya, selamat datang”.
Tepat di pelabuhan ada warung, dan ternyata yang punya warung itu adalah Datuak
(Kepala Suku) di kampung tersebut.
Kepala sekolah memperkenalkan kami dengan Datuak tersebut, kamipun berkenalan
satu persatu dengan pak Datuak. Pak Datuak mengatakan “selamat datang
dikampuang kami bapak dan ibuk guru, kami sangat senang dengan kedatangan bapak
ibuk, karena di kampung kami ini sangat banyak kekurangan guru”. Lalu salah
seorang rekan saya pun menjawab “terimakasih pak, kamipun senang bisa diterima
dengan baik di kampung ini, insyaAllah kami akan bekerjasama dengan masyarakat
untuk meningkatkan pendidikan disini’. Setelah kami bercengkerama dengan pak
datuak dan keluarganya, kamipun melanjutkan perjalanan menuju kampung yang
lebih kurang berjarak 7 Km lagi dari pelabuhan.
Setelah
menerobos hutan Ranah Panantian dengan jalan berliku, mendaki dan menurun, sampailah kami dikampung/ Desa Ranah
Panantian. Di kampung inilah kami bertugas, 4 orang di SMP dan 2 orang di SD.
Saya dan salah seorang teman bertugas di SD. Keesokan harinya, kamipun mulai
masuk ke Sekolah, kami disambut dengan baik oleh Kepala Sekolah dan para
majelis Guru serta Karyawan sekolah. Selanjutnya kami diperkenalkan dengan
siswa serta masyarakat yang berada disekitar Sekolah.
Selama
2 bulan bertugas disitu, saya harus berpisah dengan anak istri. Inilah hal yang
paling menyedihkan dalam perjalanan tugas saya, harus berpisah dengan orang
yang saya cintai. Pada waktu itu anak saya masih berumur 4 bulan. Baru dapat
momongan, harus berpisah pula. Namun ini coba saya lewati walaupun dengan berat
hati. Namun karena tidak kuat untuk berpisah dengan mereka, setelah dua bulan
saya jemput mereka dan saya bawa ke tempat saya bertugas. Satu hal lagi yang
membuat saya tidak sanggup untuk berjauhan dengan anak istri saya adalah karena
tidak ada signal di Desa Ranah Panantian. Setelah sampai di kampung ini, kita
merasa kembali ke zaman dulu belum ada signal. Disitu tidak ada listrik dan
signal, benar – kita merasa kembali ke zaman jadul ketika belum ada listrik dan
signal. Ternyata masih ada daerah di Negara kita yang kaya raya ini belum masuk
listrik dan signal.
Setelah
kami bersama di tempat tugas, kebahagiaanpun mulai menghampiri jiwa saya. Yang
biasanya ketika hari sore sudah mulai bermenung karena teringat bidadari kecil
yang baru berusia 4 bulan dan terkadang sampai meneteskan air mata. Ya, mau
bagaimana lagi, signal gak ada. Mau ditelfon? Gimana caranya? Hanya dzikir
kepada Allah lah yang dapat menenagkan hati yang gundah gulana karena rindu
dengan orang yang dicinta.
Setelah
kami menetap di kampung itu, sayapun diangkat oleh masyarakat menjadi mu’azin
dan imam pada mesjid di Desa Ranah Panantian. Selain mendidik anak – anak di Sekolah,
saya mendapat tugas tambahan menjadi pengurus Mesjid. Adzanpun saya
kumandangkan 5 waktu sholat dimesjid tersebut. Kampungpun terasa hidup kembali
dengan kehadiran kami Guru Garis Depan. Yang biasanya suara adzan hanya Magrib dan
Isya, alhamdulillah setalah kehadiran kami, suara adzan berkumandang disetiap
waktu shalat. tidak hanya di Mesjid, kamipun menggerakkan masyarakat untuk
bergotong royong membersihakan jalan kampung, sehingga kampung terlihat indah
dan hidup kembali.
Setelah
1,5 tahun mengabdi di Ranah Panantian, kamipun diberikan lagi oleh Allah rezeki
terindah. Tepat pada tanggal 12 – 09 – 2019 kami dikaruniakan oleh Allah
seroang bidadari lagi. Sujud syukurpun mengiringi kelahiran bayi kami tercinta
dan sayapun memberi nama Arafah Naeem Sayyidah dengan nama panggian Naeem.
Namun
apa mau dikata, takdir sudah mendahului saya. Sayapun harus berpindah tugas ke
kecamatan lain. Perpisahanpun terjadi dengan masyarakat Sekolah dan masyarakat Ranah
Panantian. Kebersamaan yang sudah dibina lebih kurang 2,5 tahun terasa berat
untuk ditinggalkan, karena masih banyak visi
dan misi yang belum terlaksanakan untuk membangun kampung yang dapat memeberikan
arti kehidupan kepada saya. Disaat perpisahanpun tiba, warga banyak yang datang
kerumah untuk bertemu dengan kami. Terngiang ditelinga saya ucapan warga ketika
kami akan pergi meninggalkan kampung, salah seorang warga berkata “pak, tidak
akan ada lagi yang adzan subuh nanti pak”, lalu saya jawab “jangan katakan
seperti itu buk, kan disini banyak orang yang mau ke Mesjid, insyaAllah ada kok
yang akan menggantikan saya”. Warga lain berkata “pak, kenapa bapak tinggalkan
kami, siapa yang akan mengajak anak – anak kami shalat dhuha lagi pak?”,
sayapun menghibur mereka dengan kalimat “buk, kan disini bukan hanya saya guru,
guru yang lain juga bisa membimbing anak – anak ibuk”.
Hari itupun menjadi terakhir buat saya untuk menginjakkan kaki dikampung yang memberikan banyak pelajaran hidup. Kamipun meminta do’a agar senantiasa kami diberikan perlindungan oleh Allah dimanapun kami berada. Tanpa terasa air matapun sudah membasahi pipi saya. Melihat saya menangis, warga yang hadirpun banyak yang menangis mengiri keberangkatan kami. Kisah ini merupakan kenangan saya ditempat pengabdian Guru Garis Depan. Semoga masyarakat Ranah Panantian mendapat penganti saya yang lebih baik visi dan misinya untuk membangun desa Ranah Pantian.

Komentar
Posting Komentar